A Litle Love for My Sister | by: Ayu

Posted on Updated on


Jika bisa aku mengejar kebahagiaan dan lari dari penderitaan. Bukan mauku untuk menderita. Dan bukan mauku untuk terlahir seperti ini. Hidup dalam serba kekurangan dan selalu mendamba sebuah kebahagiaan seperti sebagian besar temanku. “Ehh,, aku punya gilirannya nyetrika” teriak temanku membuatku terbangun dari mimpi dalam tidurku yang terlalu nyenyak. “Huft… aku masih ngantuk” kataku menggerumu dalam gulungan selimut yang semakin erat. Kulirik jam dinding menunjukkan jam lima pagi. Ku paksakan diri untuk bangun dan turun untuk berolahraga.

“pinjem skipingnya, lis” kataku pada temanku yanng tengah berlompat dengan skipingnya. Ku gerakkan kaki ku keatas agar tidak terkena tali skiping. Satu dua tiga dan terus hingga dua ratus. Kurasakan kaki dan tanganku mulai pegal. Aku berhenti sejenak untuk beristirahat. “Mandi yuk,, udah siang nhe,, tar telat lagi” aku dan Lisa bangkit dari duduk dan menuju kamar mandi. Satu per satu rutinitas pagiku selesai, hingga aku siap untuk berangkat ke sekolah. Biasanya aku, Uma, Ami dan yang lainnya berangkat kesekolah berbarengan. Perlu waktu setengah jam untuk sampai kesekolah. Tapi hari ini aku harus berangkat sendiri, mereka berangkat lebih awal karena mendapat jadwal yoga hari ini.

“hiaaa,,” teriakku kaget ketika seseorang hendak menabrakku. Aku masih terpaku karena kaget. Ia turun dari mobilnya dan menghampiriku. Wahh, lumayan juga. Kulihat dia putih, bersih dan rapi. Tapi,, what! Aku sudah hampir telat ke sekolah. Aku gax mau di hukum sama pak Jagra. Huft.. untung saja waktu memihak padaku. Karena begitu aku sampai di sekolah berbarengan dengan bel masuk kelas dan sudah tentu pak cok si guru fisika cakep itu belum juga datang.

Waktu cepat berlalu, tanpa kusadar jam pelajaran terakhir telah usai. “Saatnya pulang” kataku dalam hati. Di panti asuhan yang kuanggap rumah ini, aku merasa sedikit tidak nyaman berhubung banyak konflik yang terjadi disini. Aku lebih memilih untuk selalu dikamar dengan buku dan boneka mungilku yang duduk manis di tempat tidur. Istirahatku terusik dengan kedatangan seorang tamu dan membuatku harus turun sebagai rasa hormat dan terima kasihku karena telah mengunjungi tempat ini. Kulihat seorang ibu dengan seorang pria yang hampir menabrakku tadi pagi. Meraka terus menatapku kemudian berbisik kepada Ibu Dayu yang sebagai pengurus panti ini. Entah apa yang mereka bicarakan, tapi aku merasa akulah yang tengah mereka perbincangkan, tapi aku tak tahu tentang apa. Sepintas aku mendengar mereka membicarakan orang tuaku. Tapi untuk apa? What everlah! Aku lebih memilih diam, dan segera kembali ke kamar setelah kepergian mereka.

Keesokan harinya adalah hari yang sangat mengejutkan untukku. Entah kenapa tiba-tiba Ami mengatakan aku dijadikan anak angkat oleh seorang keluarga. Tapi aku kan sudah punya orang tua angkat! Kenapa sekarang ada lagi orang tua angkat? Pantas saja dari kemarin sore, ibu dayu memandangku dengan tatapan yang sinis. Ternyata memang benar orang yang kemarin menanyakan orang tuaku itu yang mengangkatku menjadi anaknya. Sejak saat itu kehidupanku berubah total. Mereka sangat menyayangiku. Segala kebutuhanku terpenuhi, tidak seperti kehidupanku sebelumnya yang selalu penuh tekanan. Ternyata Victor kakak angkatku yang paling berantusias memilihku untuk tinggal disana.

Sebelumnya aku ditawari untuk pindah sekolah. Tapi karena aku sudah kelas tiga dan sangat tidak tepat untuk pindah disaat seperti ini. Aku tetap sekolah di sekolahku yang sekarang tapi kakaku Victor akan mengantar dan menjemputku. Di sekolah kak Victor selalu menungguiku hingga aku mendapatkan pelajaran. Dan saat istirahat, ia selalu mendampingiku ke kantin. Semua orang heran melihatku dengan kak Victor, mereka menganggap kami pacaran. “Nanti malam kemana sar?” aku memandang kak Victor dan menggelengkan kepala. ia mengerti meski aku tidak mengatakannya dengan kata-kata. Hingga akhirnya kak Victor mengajakku untuk menonton konser, karena Hanamura Band pentas. Mungkin ia mengira aku menyukai band indie itu, karena aku cukup sering menceritakan mereka dengannya.

Di tempat konser aku melihat mantanku Anggi dan Lasta saat kak Victor memakirkan mobil. Mereka memandangku dengan heran, entah karena apa. Di tengah keramaian itu aku merasa terhimpit ditengah keramaian. Anggi melambaikan tangannya dan menghampiriku, tapi Lasta lebih dulu berada di sampingku dan memegang tanganku. Mereka saling pandang dan itu membuatku merasa takut. Anggi terlihat tidak suka Lasta memegang tanganku. Tampak jelas di wajah Anggi menahan marah. Tiba-tiba seseorang menarikku dari belakang dan memelukku. “Jangan pernah kamu ganggu adikku” aku meninggalkan mereka. kak Victor membawaku kembali kerumah. Ia juga minta maaf karena telah meninggalkanku sendirian di keramaian itu. Aku tersenyum sambil memandangnya dan kemudian aku memeluknya. Aku menyayangi kakaku ini.
Hari minggu esoknya aku diajak nonton skate dengannya. Sesampainya disana, aku melihat Lasta juga berada disana. “ Hai Victor! Kok baru dateng?” kak Victor hanya tersenyum sambil memandangku. Pandangan teman kak Victor terarah padaku. “ Siapa dia Vic? Ini adik angkat yang lu ceritain itu. Cakep juga. Kasi gue yahh!” celetuk Sam. Enaknya kasi lu, gak boleh! Sari gak akan gue kasi ke siapapun!” kak Victor berkata sambil memelukku. Aku hanya tersenyum saja, saat aku sadar Lasta melihatku dari awal datang. Kini aku duduk sambil melihat aksi kak Victor diatas papan skatenya. “cowokmu itu sar?” Lasta menghampiriku dan duduk disampingku. Aku mengatakan apa hubunganku dengan Kak Victor hanya sebatas kakak adik. Aku ngobrol dengan Lasta sangat lama. Tak terasa kak Victor memandang Lasta dari tadi dengan tatapan gak senang karena mendekatiku. Aku mengatakan pada kak Victor bahwa Lasta itu mantan yang aku ceritakan itu.

“Aku menyukaimu Sari” pernyataan ini membuatku kaget. Ternyata kak Victor telah memperhatikanku dari dulu. Ia tahu banyak dan melakukan banyak hal untuk dekat denganku bahkan hingga mengangkatku menjadi adiknya sebelum mengatakan perasaannya. Aku kaget sekaligus bahagia mendengar pernyataan itu. Hingga tak ada satu kata yang keluar selain senyum kepadanya yang berarti aku juga mencintainya. Sejak saat itu aku tidak hanya menjadi orang berharti di keluarga ini, tapi juga berarti di hati kak Victor. Aku menemukan cinta yang lama aku nanti. Saat seseorang mencintaiku apa adanya dan menghormatiku sebagai orang meski tidak terlalu berada. Kini dengan cintanya telah membuatku menjadi berada dan aku tidak perlu lagi mengembara dalam mencari pasangan hatiku. Mama juga sudah setuju dengan hubungan kami, begitu pula dengan orang tuaku. Kurasa aku akan tinggal selamanya di keluarga ini dan membangun keluarga yang bahagia seperti impianku. Bersama kak Victor aku mewujudkan mimpiku.
I Love You, Kak Victor <3 .
***
END

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s